Halaman

Lamanya Pendidikan Dokter

Lamanya Pendidikan Dokter

Diposkan Oleh: Administrator | Tanggal: 15 Pebruari 2019 | Dilihat: 211 Kali

 

Bisa menjadi salah satu mahasiswa kedokteran di Indonesia masih menjadi hal yang bergengsi bagi kalangan siswa SMA. Karena umumnya di berbagai universitas, jurusan ini memiliki passing grade yang tertinggi dibandingkan jurusan lainnya. Selain juga karena hal itu dipahami bisa mengantarkan mereka kepada sebuah profesi dengan pendapatan yang tinggi, prestisius di kalangan masyarakat atau dianggap sebagai orang mulia karena pekerjaannya setiap hari menolong orang lain.

Ironisnya, banyak mahasiswa yang baru menyadari tentang konsekuensi jurusan kedokteran ketika sudah terlanjur menjalaninya, yang itu ternyata sulit atau tidak mampu mereka jalani. Kondisi riil sangat berbeda jauh dari kesenangan-kesenangan yang mereka bayangkan sebelumnya. Banyak hal yang tidak terprediksi, hingga tidak sedikit memunculkan rasa pesimis, tertekan, merasa tidak bisa bertahan, akhirnya kehilangan motivasi belajar dan memutuskan untuk Drop Out. Tentunya tidak ada dari mereka yang berharap akhirnya menjadi seperti itu.

Salah satu hal yang ternyata tidak banyak dipahami dan dijadikan pertimbangan oleh para calon mahasiswa kedokteran adalah lama pendidikan kedokteran. Mereka lebih banyak yang mengira bahwa lamanya akan sama seperti jurusan pada umumnya, yakni 4 tahun. Padahal pendidikan kedokteran memiliki konsekuensi yang berbeda, yang menjadikan lulus 6 tahun sudah merupakan hal yang sangat sulit. Sehingga sebelum memutuskan, lebih baik dipahami dulu konsekuensinya.

Program Kuliah Sarjana (S1)

 

Sistem kuliah kedokteran tidak menggunakan SKS sebagaimana jurusan umumnya, melainkan menggunakan sistem blok. Dalam 1 blok, mahasiswa akan diajarkan 1 sistem organ secara mendalam mulai dari fungsi, ragam penyakit, cara kerja, hingga obatnya. Dalam satu semester, mahasiswa akan menjalani 1-4 blok dengan rata-rata 2 blok per semester. Dengan asumsi ini, sudah dipastikan tidak mungkin menggunakan sistem kebut semalam dan juga kecil kemungkinannya memperpendek semester.

Setiap setelah selesai menjalani 1 blok, mahasiswa akan dihadapkan dengan berbagai ujian. Ujian OSCE perlu dijalani untuk latihan melakukan diagnosis dan pemeriksaan pasien. Ujian selainnya seperti ujian tertulis yang soalnya mencapai 500 poin. Juga ada ujian teori lisan, yang menuntut mahasiswa paham konsep dasar hingga spesifik kasus tertentu. Jika bisa menjalani ini semua dengan baik, mahasiswa bisa dinyatakan lulus dan wisuda menjadi sarjana kedokteran, namun belum bisa menjadi dokter.

Program Profesi Dokter

 

Pendidikan kedokteran tidak selesai hanya dengan wisuda S1, melainkan masih perlu dilanjutkan dengan program profesi kedokteran (Koas). Karena mahasiswa hanya masih mendapatkan ilmunya, namun belum bisa dianggap bisa menjalankan pekerjaan riil sebagai seorang dokter. Dalam tahap ini, koas akan dipindahkan dari satu bagian ke bagian lain untuk belajar tentang kasus-kasus dokter umum di rumah sakit sesuai dengan Standar Kompetensi Dokter Indonesia.

Setiap akhir masa rotasi, koas akan dihadapkan dengan ujian Mini Case Examination untuk bertanya, memeriksa, menganalisis dan membuat resep obat kepada pasien. Kadang juga ada ujian selainnya seperti membaca foto rontgent dan ujian lisan. Semua proses tersebut umumnya perlu dilalui oleh seorang koas selama 1,5 hingga 2 tahun.

Tahap Lanjutan

 

Jika sudah menyelesaikan itu semua, masih tetap belum bisa menjadi dokter yang siap praktek, melainkan harus menjalani proses tambahan seperti Ujian Sertifikasi (UKMPPD) yang biasanya prosesnya selama 3-4 bulan. Setelahnya, dinyatakan lulus dan hanya perlu mengurus syarat administratif untuk bisa mendapatkan ijin praktek. Jika ingin menjadi dokter spesialis, maka lama pendidikan bertambah 4-5 tahun.

Itulah gambaran terkait lama waktu pendidikan yang perlu ditempuh untuk menjadi dokter. Semoga bermanfaat!  

 

 

Bagikan: